BAGAIMANA NASIB KEDUA ORANG TUA NABI bagian III

Nasib Ahlu Fatrah

Telah kita bahas di tulisan sebelumnya bahwa tentang bagaimana kelak nasib ahli fatrah itu di akhirat, secara umum ada tiga kelompok pendapat ulama. Yang pertama yang menyatakan bahwa mereka akan selamat dan dimasukkan ke syurga, yang kedua mereka dimasukkan ke dalam neraka bersama orang-orang kafir dan yang ketiga mereka akan diuji terlebih dahulu untuk ditentukan surga atau nerakanya.[1]

Untuk kelompok pertama telah kita sebutkan kalangan yang menyatakannya berikut dalil-dalil yang digunaka untuk menguatkan pendapat mereka. Maka di bagian ketiga dari tulisan ini kita akan menyebutkan kelompok selanjutnya yakni yang kedua dan ketiga.

2.Ahli Fatrah akan disiksa di neraka

Menurut kelompok ini ahli fatrah adalah termasuk mukallaf  dan akan disiksa dengan sebab kekafiran mereka meskipun tidak datang utusan Allah kepada mereka, karena menurut mereka seharusnya ahlu Fatrah menggunakan akal-akal mereka untuk membedakan yang hak dan yang batil. Meksipun mereka tidak mengetahui risalah, tapi paling tidak mereka tidak akan menyembah patung dan berhala lainnya.

Pendapat kedua ini dinisbahkan kepada kalangan mu’tazilah dan sebagian Maturidiyah dari madzhab aqidah.[2]

Adapun dalil-dalil yang digunakan adalah sebagai berikut ini :

Dalil pertama

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

 Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS.An Nisa: 18)

 Sisi pendalilannya : Siapapun yang mati dalam keadaan kafir, maka ia akan disiksa baik sebelumnya telah diberikan peringatan ataukah tidak. Ahlu fatrah akan turut dimasukkan ke neraka karena mereka termasuk orang ke dalam golongan orang-orang yang kufur kepada Allah.

Dalil kedua

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِين

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yang mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. Ali Imran : 91)

Sisi pendalilannya : Orang- orang kafir itu disiksa karena keadaan kekafiran mereka, maka ahlu fatrah yang juga kafir kepada Allah sudah seharusnya disiksa pula dengan sebab kekafirannya.

Dalil ketiga

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa 48)

Sisi pendalilannya : Ayat ini tegas menyatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa orang-orang musyrik yang mati dengan kesyirikannya. Maka ahlu Fatrah yang juga mati dengan mensekutukan Allah akan turut diadzab bersama orang-orang musyrik lainnya.

Dalil keempat

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

 “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah: 161)

Sisi pendalilannya : Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati dengan membawa kekafirannya akan dilaknat dan diadzab oleh Allah, maka demikian pula ahli fatrah yang mati dengan membawa kekafirannya.

Dalil kelima

‌اسْتَأْذَنْتُ ‌رَبِّي ‌أَنْ ‌أَسْتَغْفِرَ ‌لِأُمِّي ‌فَلَمْ ‌يَأْذَنْ ‌لِي، ‌وَاسْتَأْذَنْتُهُ ‌أَنْ ‌أَزُورَ ‌قَبْرَهَا، ‌فَأَذِنَ ‌لِ

 “Aku memohon izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun tidak diperkenankan oleh-Nya, dan aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankan oleh-Nya.” (HR. Muslim)

Sisi pendalilan : Ibunda Nabi adalah termasuk ahlu Fatrah, meskipun demikian ketika ia mati dengan membawa kesyirikan, Allah melarang NabiNya untuk memohonkan ampun untuknya.

Dalil keenam

عَنْ أَنَسٍ؛ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ "فِي النَّارِ" ‌فَلَمَّا ‌قَفَّى ‌دَعَاهُ ‌فَقَالَ "‌إِنَّ ‌أَبِي ‌وَأَبَاكَ ‌فِي ‌النار

 Dari Anas ada seorang laki-laki yang bertanya : “Wahai Rasulullah dimanakah bapakku ? Beliau menjawab : “Di neraka.” Mana kala laki-laki itu berpaling beliau memanggilnya lalu bersabda “Sesunnguhnya bapakku dan bapakmu di neraka.” (HR. Muslim)

Sisi pendalilan : Jelas disebutkan di sini bahwa orang tua nabi dan orang tua para sahabat mereka adalah ahlu fatrah, tetapi meskipun demikian mereka tetap dimasukkan ke neraka dengan sebab kesyirikan mereka.

Dalil ketujuh

Dalil akal. Karena akal telah dijadikan hujjah oleh Ibrahim untuk menunjukkan keberadaan Allah baik kepada kaumnya maupun kepada orang tuanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam surah al An’am ayat 74 dan ayat 78 hingga seterusnya. Lalu Allah menegaskan dengan firmanNYa :

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 “Dan mereka (orang-orang kafir) itu berkata : Seandainya kami dahulu mau menggunakan pendengaran atau akal kami maka niscaya kami tidak akan menjadi penduduk neraka ini.” (QS. Al Mulk : 10)

3. Ahli Fatrah akan diuji untuk menentukan nasib mereka

Menurut kelompok yang memegang pendapat ketiga ini, Ahlu Fatrah akan diuji pada hari kiamat. Yakni mereka oleh Allah ta’ala akan diperintahkan untuk  memasuki kobaran api, jika mereka mematuhi Allah maka mereka akan diampuni, namun jika tidak, mereka justru akan dimasukkan ke dalam neraka karena kedurhakaan tidak mau mematuhi perintahNya.

Pendapat ini masyhur dipegang oleh beberapa ulama klasik dari genarasi tabi’in, juga menurut satu riwayat ini yang diikuti oleh Abu Hasan al Asy’ari dan beberapa ulama yang mengikuti madzhabnya seperti Ibnu Hajar al Asqalani.[3] Pendapat ini juga yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Hazm dan al imam Ibnu Katsir rahimahulullah jami’an.[4]


Dalil yang digunakan oleh mereka yang memegang pendapat ini adalah :

Dalil pertama

Dari Aswad bin Syari’, Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda :

أربعة (يحتجون) يوم القيامة رجل أصم لا يسمع شيئاً ورجل أحمق ورجل هرم ورجل مات في فترة، فأما الأصم فيقول رب لقد جاء الإسلام وما أسمع شيئاً، وأما الأحمق فيقول رب لقد جاء الإسلام والصبيان يحذفوني بالبعر، وأما الهرم فيقول رب لقد جاء الإسلام وما أعقل شيئاً، وأما الذي مات في الفترة فيقول رب ما أتاني لك رسول فيأخذ مواثيقهم ليطيعنه فيرسل إليهم أن أدخلوا النار، قال: فوالذي نفس محمد بيده لو دخلوها لكانت عليهم بردا وسلاما. ومن لم يدخلها سحب إليها

 “Empat orang yang berhujah di hari kiamat, yaitu seorang yang tuli yang tidak mendengar sesuatu pun, orang yang idiot, orang yang sudah pikun dan orang mati di masa fatrah. Adapun orang yang tuli akan berkata, “Ya Rab Islam datang sedangkan aku tidak bisa mendengar suatu apapun”. Orang idiot akan berkata, “Ya Rab, Islam datang sedangkan aku tidak berakal”. Orang yang sudah pikun berkata, “Islam datang sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran unta.”

Orang yang mati dalam masa fatrah berkata, “Ya Rab belumlah datang kepadaku seorang rasul.” Maka Allah mengambil perjanjian mereka agar ditaati dengan mengutus seorang rasul kepada mereka; agar mereka masuk ke dalam neraka. Siapa yang taat dan mau masuk maka neraka akan menjadi dingin dan menyelamatkan mereka. Barangsiapa yang enggan mentaatinya, maka akan dijerumuskan ke dalamnya.” (HR. Ahmad)[5]

Dalil kedua

Dari Anas bin Malik Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda :

يؤتى بأربعة يوم القيامة، بالمولود وبالمعتوه وبمن مات في الفترة وبالشيخ الفاني، كلهم يتكلم بحجته، فيقول الرب تبارك وتعالى لعنق من النار ابرزي، فيقول لهم: إني كنت أبعث إلى عبادي رسلًا من أنفسهم وإني رسول نفسي إليكم، قال: ويقول لهم ادخلوا هذه، ويقول من كتب عليه الشقاء: أنى ندخلها ومنها كنا نفر؟! فيقول الله: فأنتم لرسلي أشد تكذيبًا. قال: وأما من كتب عليه السعادة فيمضي فيقتحم فيها، فيدخل هؤلاء الجنة وهؤلاء إلى النار

 “ Akan didatangkan empat orang pada hari kiamat: bayi yang baru lahir, orang yang sakit jiwa, orang yang meninggal di masa fatrah, dan orang yang sudah tua, semuanya akan berbicara dengan kesaksiannya masing-masing.  Dan akan berfirman Rabb tabaraka wata’ala untuk membebaskan mereka dari api neraka. Muncullah.

Kemudian Dia akan mengatakan kepada mereka : ‘Sesungguhnya Aku telah mengirim kepada hamba-hamba-Ku utusan-utusan dari dalam diri mereka sendiri, dan aku sendiri adalah seorang utusan kepada kamu, “Maka masuklah ke dalam api ini. Dan orang yang ditakdirkan sengsara akan menajwab : ‘Bagaimana kami dapat memasukinya sedangkan kami itu berusaha menghindar dari api ?! Kemudian Allah berfirman : ‘Orang seperti kalian tentu akan lebih ingkar terhadap Rasul-Ku.

Beliau shalallahu’alaih wassalam bersabda: ‘Adapun orang yang ditakdirkan mendapat kebahagiaan, maka dia pergi dan memasukinya, lalu orang-orang ini masuk surga dan orang-orang itu masuk neraka.” (HR. Bazzar dan Abu Ya’la)[6]

Dalil ketiga

Dari Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah shalallahu’alaihi wassala bersabda :

يؤتى بالهالك في الفترة والمعتوه والمولود، فيقول الهالك في الفترة: لم يأتني كتاب ولا رسول، ويقول المعتوه: أي رب، لم تجعل لي عقلًا أعقل به خيرًا ولا شرًا، ويقول المولود: لم أدرك العمل قال: فيرفع لهم النار فيقال، رِدوها، أو قال: ادخلوها. فيدخلها من كان في علم الله سعيدًا أن لو أدرك العمل، قال: ويمسك عنها من كان في علم الله شقيًا أن لو أدرك العمل، فيقول الله تبارك وتعالى: "إياي عصيتم، فكيف برسلي بالغيب؟

 

“Orang yang binasa akan didatangkan pada masa itu, orang gila, bayi yang baru lahir, dan orang yang binasa pada masa itu akan berkata: Tidak ada kitab atau rasul yang datang kepadaku, dan orang dungu akan berkata: Ya Tuhan, Engkau tidak memberiku pikiran yang dapat digunakan untuk memahami baik atau buruk, dan bayi yang baru lahir akan berkata: Saya tidak menyadari pekerjaan itu.

 Kemudian Neraka akan dibangkitkan bagi mereka dan dikatakan: Buanglah, atau Dia berkata: Masuklah. Maka barangsiapa yang berada dalam ilmu Allah akan berbahagia jika telah mencapai pekerjaan tersebut. Beliau bersabda: Dan orang yang berada dalam pengetahuan Allah akan sengsara jika telah mencapai pekerjaan tersebut maka ia akan menjauhinya berkata: “Engkau telah mendurhakai Aku, lalu bagaimana dengan para Rasul-Ku yang berada di alam ghaib?” (HR. Bazzar)

Status  penduduk Makkah sebelum Bi’tsah

Setelah kita mengetahui pendapat para ulama tentang keadaan ahlu Fatrah nanti di akhirat, pertanyaan selanjutnya adalah apakah penduduk Makkah yang meninggal sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam – termasuk dalam hal ini orang tua Nabi -  itu termasuk ahli Fatrah ? Dan apakah keadaan mereka pada saat itu semua dalam keadaan musyrik ? Insyaallah kita akan bahas di bagian ke IV...



[1] Ahlu Fatrah wa man fi Hukmihim hal. 71

[2] Jam’ul Jawami’ (1/62)

[3] Tabaqat asy Syafi’iyah (3/347),  Fath al Bari (3/445)

[4] Tafsir Ibnu Katsir (3/35), Al AFash fi al Milal (4/74)

[5] Hadits ini juga diriwayatkan oleh al imam Thabrani dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dan al Haitsami mengatakan dalam Majmnu’ Az Zawaid (7/216) rijal hadits ini semuanya shahih kecuali seorang rawi yang bernama Laits bin Abi Salim yang tertuduh sering melakukan tadlis.

[6] Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (7/216) mengatakan bahwa semua rawi hadits ini shahih kecuali seorang rawi yang bernama Laits bin Abi Salim yang tertuduh sering melakukan tadlis.

0 comments

Post a Comment