BAGAIMANA NASIB ORANG TUA NABI ? Bagian II


Apakah orang tua Nabi ahli fatrah ?

Sebab perselisihan tentang nasib orang tua Nabi di akhirat apakah di neraka atau tidak adalah bermula dari perbedaan pandangan ulama apakah mereka semasa hidupnya termasuk ahlu fatrah atau bukan. Sebagian mereka menyatakan bahwa ibu bapak Rasulullah bukan ahli fatrah, namun sebagiannya lagi menganggap bahwa mereka hidup di masa di mana sedang terjadi kekosongan dari risalah kenabian khususnya di wilayah jazirah Arab.

Maka sebelum kita lanjut ke bahasan tentang perbedaan ulama, kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang ahlu fatrah siapa mereka dan bagaimana nasib mereka kelak di akhirat.

Ahlu fatrah

Ahl al fatrah  (اهل الفترة)terdiri dari dua kata Ahli yang artinya secara bahasa bisa pemilik, empu atau golongan. Sedangkan kata fatrah artinya terputus atau kosong.[1] Dikatakan dengan istilah “futur” adalah sesuatu yang tenang yang tadinya bergejolak, melunak yang tadinya keras.[2] Seperti dikatakan “Fattara al Mathar” yang artinya telah terhenti hujan.[3]

Dan fatrah yang merupakan bentuk dari kata fatara diistilahkan oleh Murtadha az Zabidi rahimahullah dengan :

ما بين كل رسولين من رسل الله عز وجل من الزمان الذي انقطعت فيه الرسالة

“Masa antara dua utusan Allah azza wajalla yang pada masa itu terputus risalah.”[4]

Sedangkan al Imam Ibnu Katsir rahimahullah mendefinisikan dengan :

هي ما بين كل نبيين كانقطاع الرسالة بين عيسى عليه السلام ومحمد - صلى الله عليه وسلم

 

“Dia adalah setiap (masa) antara nabi-nabi, seperti masa terputusnya (kenabian) antara Isa alaihissalam dengan Nabi muhammad shallallahu’alaihi wasallam.”[5]

Adapun imam as Subki rahimahullah mengartikan dengan :

هي ما كانت بين رسولين لم يُرسل إليه الأول ولم يُدرِك الثاني

“Dia adalah sesuatu yang ada diantara dua utusan Allah, yang mana rasul satunya belum diutus sedangkan rasul sebelumnya mereka tidak menjumpai masanya.”[6]

Imam Alusi rahimahullah berkata :

أجمع المفسرون بأن الفترة هي انقطاع ما بين رسولين

“Telah bersepakat para ahli tafsir bahwa “fatrah” adalah masa terputus  (risalah) antara dua rasul.”[7]

 

Sehingga jika digabungkan antara kata ahlu dengan fatrah akan terdefinisi diantara dengan pengertian : “Golongan atau umat yang hidup di masa antara dua utusan Allah, yang mereka tidak bertemu dengan utusan Allah yang pertama dan tidak juga menjumpai utusan Allah yang kedua. Seperti umat yang hidup di zaman antara telah diutusnya Isa ‘alaihissalam dan sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Yang di masa mereka tidak ada Rasul yang diutus kepada mereka.”[8]

Sehingga dengan definisi ini, ahlu fatrah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wassalam, karena memang tidak ada sepeninggal nabi atau Rasul yang diutus oleh Allah ta’ala. Namun meskipun demikian para ulama menyatakan meskipun secara penamaan ahli fatrah ini tidak ada lagi, namun secara hukum ahli fatrah bisa saja terjadi di masa setelah diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam. Yakni mereka yang hidup di suatu masa atau tempat namun dakwah Islam tidak sampai kepada mereka. Nah mereka ini juga dihukumi sebagai ahlu fatrah.

Nasib Ahli Fatrah di Akhirat

Tentang keadaan para ahli fatrah itu nanti di akhirat, secara umum ada tiga pendapat ulama tentangnya. Yang pertama mereka akan selamat, yang kedua mereka dimasukkan ke dalam neraka dan yang ketiga mereka akan diuji terlebih dahulu untuk ditentukan surga atau nerakanya.[9]

Berikut adalah penjelasan masing-masing pendapat dalam masalah ini :

1.Ahli fatrah selamat di akhirat

Pendapat pertama ini dipegang oleh kalangan ulama Asy’ariyah dari madzhab aqidah dan dari sebagian Syafi’iyyah dari madzhab fiqih.[10]

Dalilnya yang digunakan oleh kalangan ini adalah ayat dan hadits berikut ini :

Dalil pertama

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ

Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Isra: 15)

 

Sisi pendalilannya : Allah ta’ala telah menyatakan bahwa Dia tidak akan mengadzab suatu kaum sebelum diutusnya seorang rasul kepada mereka. Sedangkan ahli Fatrah tidak diutus kepada mereka seorang rasul pun sehingga mereka tidak akan diadzab, artinya mereka akan dimasukkan ke dalam syurga.

Dalil kedua

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُل

 

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu..” (QS. Nisa: 165)

Sisi pendalilannya : Allah akan membungkam hujjah orang-orang kafir di akhirat dengan bukti rasul-rasulNya yang telah diutus untuk meberikan peringatakan kepada mereka namun justru oleh mereka didustakan.

Sedangkan ahlu fatrah tidak datang kepada mereka para utusan untuk memberikan peringatan apapun sehingga ini menjadi dalil akan keselamatan mereka di Akhirat.

Dalil ketiga :

... قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

“..Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, "Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (QS. Al Mulk: 9)

Sisi pendalilannya : Di ayat ini jelas bahwa Allah ta’a menyatakan tidak akan mengadzab seoarang hamba atau suatu kaum kecuali telah tegak hujjah atas mereka dan diakui pula oleh mereka. Sedangkan itu tidak berlaku untuk ahlu fatrah karena tidak ada utusan Allah kepaa mereka.

Dalil keempat

وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

 

"Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Az Zumar : 71)

Sisi pendalilannya : Di ayat digambarkan bahwa ketika orang-orang kafir digiring menuju neraka kepada mereka ditanyakan kepada mereka tentang adanya rasul yang pernah diutus kepada mereka sebagai hujjah dan orang-orang kafir itupun mengakuinya. Sedangkan ahlu Fatrah tentu tidak akan disertakan karena mereka tidak pernah didatangi oleh utusan Allah sebelumnya.

Dalil kelima

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا

 

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul kepada kota dan yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka...” (QS. Al Qashash :59)

Sisi pendalilannya : Allah tidak akan mungkin mendzalimi suatu kaum dengan memberikan adzab di akhirat tanpa adanya rasul yang diutus ke tengah-tengah mereka yang kemudian oleh kaum tersebut didustakan. Sedagkan ahlu fatrah tidak mendustakan seorang pun dari utusan Allah sehingga tentu mereka tidak akan diadzab oleh Allah.

Dalil ayat selanjutnya  yang kurang lebih sama ada pada surah al Maidah ayat 19 dan surah al An’am ayat 130.

Dalil keenam

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنْ اللَّهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ

 

“..Dan tidak ada satupun pihak yang lebih suka memberi udzur daripada Allah, karena itulah Allah mengutus para rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (HR. Bukhari)

Sisi Pendalilan : Allah ta’ala adalah Dzat yang penuh kasih sayang kepada hamba-hambaNya, selama masih ada udzur atau alasan dari pelanggaran yang dilakukan oleh seorang hamba, maka Dia akan menerima dan memberikan ampunan. Karena itulah untuk mematahkan alasan-alasan orang-orang kafir ketika ngeles dari kedurhakaan mereka, Dia menjadikan diutusnya para nabi dan rasul sebagai hujjah, sedangkan ahli fatrah termasuk karena tidak tegak atas mereka hujjah dalam masalah ini.

Bersambung...


[1] Al Mufradat fi Gharib al Qur’an (1/622)

[2] Mu’jam al Maqayis (4/470)

[3] Lisanul Arab (5/43)

[4] Taj al Arus (13/294)

[5] Tafsir Ibnu Katsir (2/35)

[6] Jam’ul Jawami’ hal. 58

[7] Ruhul Ma’ani (6/103)

[8] Tahrirul Maqal (1/413)

[9] Ahlu Fatrah wa man fi Hukmihim hal. 71

[10] Al Hawi (2/353)

0 comments

Post a Comment