MENYEMBELIH HEWAN QURBAN DI MASJID

 Kiyai izin bertanya benarkah menyembelih qurban di masjid itu hukumnya haram ? Beredar ceramah yang menfatwakan bahwa itu tidak dibolehkan karena dianggap bisa mengotori masjid dan menggunakan wakaf bukan untuk peruntukannya.

Jawaban

Secara asal menyembelih hewan untuk kurban itu diperbolehkan dilaksanakan di pelbagai tempat manapun. Dengan ketentuan tempat tersebut memang layak dan memungkinkan untuk dijadikan tempat untuk menyembelih hewan kurban. 

Sedangkan khusus lokasi di mana diselenggarakannya shalat hari raya, justru menyembelih qurban di tempat tersebut hukumnya disunnahkan menurut mayoritas ulama. Berikut ini fatwa-fatwa para ulama dalam masalah ini :

 Al imam Syaukani rahimahullah berkata :

كان يذبح وينحر بالمصلى فيه استحباب أن يكون الذبح والنحر بالمصلى وهو الجبانة. والحكمة في ذلك أن يكون بمرأى من الفقراء فيصيبون من لحم الأضحية.

“Adalah menyembelih dan memotong hewan kurban di musala hukumnya dianjurkan. bahwa menyembelih hewan tersebut di musala yang ada lokasi untuk memotongnya. Adapun hikmah yang demikian adalah agar bisa disaksikan oleh orang yang fakir, sehingga mendapatkan bagian mereka dari daging sembelihan kurban tersebut."[1]

Dalam kitab Fiqhul Manhaji disebutkan :

ويذبحه بالمصلى، حيث يجتمع الناس لصلاة العيد، وأن ينحر أو يذبح بنفسه

“Dan menyembelih di tempat diselenggarakannya shalat yaitu tempat berkumpulmya orang—orang untuk shalat hari raya. Berqurban dan menyembelih untuk dirinya..”[2]

Dalam Fiqh ‘ala madzhab al Arba’ah juga disebutkan :

المالكية قالوا: يندب إبراز الضحية للمصلي، ويكره عدم ذلك للإمام فقط

 "Kalangan Malikiyah berkata : Dan di sunnahkan untuk menampakkan hewan qurban di mushala, dan dimakruhkan tidak menampakkan hewan kurban di mushala bagi imam saja...”[3]

Dalilnya

Dalil kesunnahan untuk memotong hewan qurban di tempat diselenggarakannya shalat hari raya adalah sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma beliau berkata :

كان ‌رَسُولُ ‌اللَّهِ ‌صَلَّى ‌اللَّهُ ‌عَلَيْهِ ‌وَسَلَّمَ ‌يَذْبَحُ ‌وينحر ‌بالمصلَّى

“Adalah dahulu Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menyembelih hewan qurban di mushalla (tempat dilaksanakannya shalat Idul Adha).” (HR. Bukhari)

Halaman masjid tidak diperbolehkan ?

Tempat diselenggarakannya shalat hari raya secara umum terbagi menjadi dua, lapangan dan masjid. Jika untuk lapangan rasanya tidak perlu di permasalahkan, karena dalil dan penjelasan ulama di atassudah sangat jelas. Lalu bagaimana jika shalat Idnya di masjid ?

Nah di sini memang benar , kita menemukan adanya fatwa sebagian ulama yang menyatakan bahwa hukumnya tidak boleh menyembelih hewan Qurban di dalam masjid, sebagaimana yang  difatwakan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini :

لا يجوز أن يذبح في المسجد: لا ضحايا ولا غيرها، كيف والمجزرة المعدة للذبح قد كره الصلاة فيها، إما كراهية تحريم، وإما كراهية تنزيه ؛ فكيف يجعل المسجد مشابها للمجزرة، وفي ذلك من تلويث الدم للمسجد ما يجب تنزيهه

“Tidak boleh menyembelih apapun di dalam masjid, baik qurban maupun  yang lainnya. Bagaimana mungkin menyembelih dilakukan di masjid, sementara tempat jagal termasuk tempat yang tidak boleh digunakan untuk shalat. Bisa larangan haram atau larangan makruh. Sehingga bagaimana mungkin masjid dijadikan seperti tempat jagal binatang. Padahal ini bisa mengotori masjid dengan darah, yang seharusnya dibersihkan.”[4]

Ini memang benar, tidak boleh menyembelih apapun di dalam masjid. Tapi memang siapa juga yang mau menyembelih hewan di dalam masjid ?  dimaman atau di mimbar misalnya yag dikira afdhal, ya pasti ditimpuki orang banyak. Yang dilakukan orang-orang itu di halaman masjid, yang tentu itu bukan tempat yang harus dijaga kesuciannya. Karena memang biasanya menjadi tempat sendal, parkir dan termasuk toilet itu areanya di pekarangan atau halaman masjid. Sehingga fatwa larangan tersebut bukan ditujukan untuk yang menyembelih di pekarangan masjid, tapi tapi di dalam bangunan masjid.

Ada juga yang beralasan karena itu bertentangan dengan tujuan diwaqafkannya masjid dan akan menyebabkan penggunaan fasilitas masjid tanpa izin.

Jawabannya, pertama jika alasannya pekarangan masjid juga tidak boleh dipakai karena tidak sesuai dengan tujuan orang yang berwakaf, ini teramat mengada-ada dan terlalu mempersempit fungsi masjid. Masa iya untuk penyelenggaraan ritual ibadah sepenting qurban muaqif akan berkenan ? Bukankah di masa Nabi shalallahu’alaihi wassalam fungsi masjid bukan hanya untuk shalat ? untuk belajar, menerima tamu, latihan perang bahkan untuk mengikat tahanan.

Lagi pula jika waqaf untuk masjid tidak boleh digunakan selain untuk tujuan shalat, padahal itu area pekarangannya berarti untuk aktivitas yang lain seperti parkir kendaraan, acara pengajian juga dilarang. Dan ini sama sekali tidak bisa diterima akal dan dalil manapun.

Yang kedua, jika karena adanya penyelenggaraan penyembelihan qurban itu menyebabkan fasilitas masjid seperti listrik dan air terpakai, ini juga masih bisa diatur dan disiasati. Jika memang takmir atau para donatur masjid tidak berkenan, maka solusinya tidak dibebankan biaya tambahan untuk penyelenggaraan aktivitas penyembelihan qurban tersebut. Tapi jika tidak ada yang keberatan, ini kembali kepada hukum asal kebolehannya. Dan penggunaan fasilitas masjid untuk memakmurkannya dan juga kemaslahatan umat, hukumnya boleh menurut mayoritas ulama.

Jika penyembelihan qurban telah tersebiasa diadakan di masjid tersebut bertahun-tahun, dan tidak ada yang mempersoalkan, itu sudah menjadi bukti izin yang diberikan oleh pihak-pihak terkait. Sebagaimana kaidah ushul menyebutkan “ al ‘Adatul Muhakkamah” sebuah kebiasaan itu bisa menjadi hukum. Dan juga ka’idah :

المسلمون على شروطهم

“Kaum muslimin itu tergantung pada syarat-syarat yang dibuat oleh mereka.”

Terkecuali jika ada masjid yang muaqif (pewakafnya) atau takmirnya melarang penggunaan fasilitas masjid kecuali hanya untuk keperluan shalat, maka hukumnya haram menyenggarakan penyembelihan qurban di situ. Dan bukan hanya qurban, menggunakan pengeras suara untuk pengumuman, parkir kendaraan untuk selain shalat, menggunakan air masjid saat kebelet pipis yang tidak di waktu untuk shalat semua juga diharamkan.

Dan jujur, saya belum pernah ketemu adanya  masjid yang sesaklek itu...

Wallahu a’lam.


[1] Nailul Authar (5/144)

[2] Al Fiqihul  Manhaji (1/236)

[3] Fiqh ‘ala Madzhab al Arba’ah (1/549)

[4] Al Fatawa alKubra (2/85)

 

0 comments

Post a Comment