KEAGUNGAN BULAN DZULHIJJAH

1.     Keagungan secara umum Dzulhijjah

 

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu :Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil akhir dan Sya’ban.” (Muttafaqqun ‘Alaih)

2.     Keagungan 10 hari pertama Dzulhijjah

 

وَالْفَجْرِ  وَلَيَالٍ عَشْرٍ

 “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2)

Imam al Thabari dalam tafsirnya mengatakan : "Yang dimaksud ayat tersebut adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan pendapat para ahli tafsir.”[1]

مَا ‌مِنْ ‌أَيَّامٍ ‌أَعْظَمُ ‌عِنْدَ ‌اللهِ ‌وَلَا ‌أَحَبُّ ‌إِلَيْهِ ‌الْعَمَلُ ‌فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

 

“Tidak ada hari yang lebih agung  dan amal padanya lebih dicintai di sisi Allah melebihi hari-haro dari sepuluh Dzulhijjah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid." (HR. Ahmad).

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”(HR. Bukhari)

3.     Keagungan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah)

 مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَر مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهِ عَبْداً مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَة، فَيَقُوْل : مَا أَرَادَ هَؤُلَاء

“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia pada hari itu mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh mereka itu?” (HR. Ibnu Majah)

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً

Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad)

4. Keagungan hari Nahr (10 Dzulhijjah)

أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Hari teragung di sisi Allah adalah hari Nahr kemudian hari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)

Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata: “Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘Ied hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’a dengan do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4.     Keagungan hari-hari tasyriq

 

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al Baqarah :203)

 

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma : “ yang dimaksud beberapa hari yang berbilang’ adalah hari-hari tasyriq.”[2]

 

أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Hari teragung di sisi Allah adalah hari Nahr kemudian hari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)

 

يَوْمُ عَرَفَةَ ، وَيَوْمُ النَّحْرِ ، وَأَيَّامُ  التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

 

 “Hari ‘Arafah, hari raya Qurban dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita umat Islam, dan dia merupakan hari-hari makan dan minum.” (HR. Abu Dawud)

 

Wallahu a’lam.



[1] Tafsir ath Thabari (24/397)

[2] Lathaiful Ma’arif, hal. 314

0 comments

Post a Comment